Pemerintah Berau Dorong Produk Olahan Jagung Eka Sapta Jadi Peluang Baru Usaha Masyarakat

img

POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Pemerintah Berau memberikan dorongan untuk memanfaatkan potensi hasil pertanian Jagung oleh masyarakat di Kampung Eka  Sapta, Kecamatan Talisayan, untuk bisa diolah berbagai produk pangan  memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi dan mudah dipasarkan kepada konsumen.

 

Langkah tersebut diwujudkan melalui Pelatihan Pengolahan Jagung yang digelar Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Kabupaten Berau melalui Bidang Koperasi dan UMKM. Sebanyak 20 pelaku usaha dari Kampung Eka Sapta, mengikuti kegiatan tersebut selama tiga hari.

 

Para peserta diperkenalkan tentang bagaimana bahan baku lokal dapat dikembangkan menjadi produk pangan yang lebih menarik, memiliki nilai jual, dan berpeluang masuk ke pasar yang lebih luas, melalui belajar teknik mengolah Jagung.

 

Membuat Kue dan roti berbahan dasar Jagung menjadi salah satu contoh produk yang dikembangkan dalam kegiatan tersebut.

 

Bagi pemerintah daerah, langkah sederhana mengubah jagung menjadi produk olahan ini memiliki makna yang lebih besar. Sebab, pengolahan merupakan bagian dari upaya hilirisasi yang diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat.

 

Kepala Diskoperindag Berau, Eva Yunita, mengatakan jagung merupakan salah satu komoditas yang cukup banyak dihasilkan masyarakat. Karena itu, masyarakat perlu mendapatkan pengetahuan dan keterampilan agar hasil pertanian tersebut tidak hanya dijual sebagai bahan mentah.

 

“Jagung merupakan salah satu komoditas yang cukup banyak dihasilkan masyarakat. Kami ingin memberikan pengetahuan dan keterampilan agar hasil panen tidak hanya dijual dalam bentuk bahan mentah,” ujarnya.

 

Eva menjelaskan, jagung merupakan salah satu komoditas unggulan Kabupaten Berau, selain kakao dan kelapa dalam. Pengembangan pengolahan jagung menjadi produk pangan menjadi salah satu langkah yang dilakukan pemerintah daerah sebagai tindak lanjut program hilirisasi. Menurutnya, potensi produksi menjadi salah satu pertimbangan utama memilih Kampung Eka Sapta sebagai lokasi pelatihan.

 

“Eka Sapta merupakan salah satu kampung yang hasil jagungnya cukup banyak sehingga kami menentukan lokasi pelatihan di sana,” katanya.

 

Dengan adanya pengolahan di tingkat masyarakat, rantai ekonomi komoditas jagung diharapkan tidak berhenti ketika hasil panen keluar dari lahan. Sebaliknya, jagung dapat kembali masuk ke dalam proses produksi sebagai bahan baku UMKM. Dari satu komoditas, masyarakat dapat menciptakan berbagai jenis produk yang memiliki nilai tambah.

 

Konsep inilah yang ingin diperkuat pemerintah melalui pelatihan tersebut, mendorong masyarakat untuk menghasilkan produk, dan memahami bagaimana produk tersebut dikemas dan dipasarkan. Karena itu, selain praktik pengolahan, peserta juga mendapatkan materi mengenai pengemasan produk dan strategi pemasaran.

 

Eva berharap ilmu yang diperoleh selama pelatihan dapat diterapkan secara berkelanjutan oleh masyarakat Eka Sapta. Ia ingin pelatihan tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat, tetapi menjadi awal munculnya usaha-usaha baru berbasis komoditas lokal.

 

“Kami berharap masyarakat Eka Sapta bisa memanfaatkan ilmu dari pelatihan ini untuk mengolah lebih lanjut jagung menjadi produk yang bernilai jual tinggi,” katanya.

 

Harapan lainnya, kata Eva, adalah lahirnya produk olahan Jagung yang memiliki ciri khas daerah dan mampu dipasarkan tidak hanya di lingkungan sekitar, tetapi juga menjangkau pasar yang lebih luas.

 

“Harapan kami setelah pelatihan ini muncul produk-produk olahan jagung khas daerah yang dapat dipasarkan lebih luas. Dengan begitu, potensi pertanian yang dimiliki masyarakat dapat memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar,” ujarnya.

 

Upaya tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pengembangan komoditas pertanian tidak selalu harus berhenti pada peningkatan produksi. Ketika hasil panen diolah menjadi produk siap konsumsi, muncul nilai tambah baru. Ketika produk tersebut dikemas dan dipasarkan, terbuka pula peluang usaha baru bagi masyarakat.

Dari sinilah Jagung Eka Sapta diharapkan tidak sekadar dikenal sebagai hasil pertanian, tetapi juga mampu berkembang menjadi produk UMKM yang memiliki identitas, nilai ekonomi, dan pasar tersendiri.  (sep/FN)